Skip to content

Pengalaman dan Aktivitas Kampus di Universiti Sains Malaysia

foto bersama dekan social sciences USM

Kesempatan mengikuti program student exchange di Universiti Sains Malaysia (USM) melalui Program KAMI Berdampak Universitas Syiah Kuala memberi saya ruang untuk melihat proses pendidikan dari sudut yang berbeda. Sebagai mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi USK, saya menyadari bahwa pengalaman akademik tidak selalu dibentuk oleh kompleksitas materi, melainkan oleh cara sebuah institusi menata lingkungan belajarnya. Walaupun masa studi di USM berlangsung dalam waktu yang terbatas, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam dan memperluas cara pandang saya terhadap praktik pembelajaran di luar Indonesia, sekaligus memberikan dampak positif bagi perkembangan pribadi.

Pengalaman yang paling menarik selama berada di USM adalah pelaksanaan Convocation, acara kelulusan mahasiswa yang dikemas secara jauh lebih luas dari sekadar prosesi akademik. Selama kurang lebih delapan hari, kawasan kampus menjadi ruang aktivitas yang hidup, dipenuhi bazar, pameran, serta berbagai kegiatan pendukung yang menyatu dengan kehidupan kampus. Convocation tidak berdiri sebagai agenda formal semata, melainkan hadir sebagai peristiwa kampus yang membangun suasana kebersamaan.

Hal yang menonjol dari convocation ini adalah cara USM memaknai kelulusan sebagai bagian dari budaya institusi. Acara tersebut tidak hanya ditujukan kepada wisudawan, tetapi juga melibatkan mahasiswa aktif, alumni, dan masyarakat umum. Kehadiran berbagai lapisan ini menciptakan atmosfer yang inklusif dan memperlihatkan bagaimana pencapaian akademik diposisikan sebagai nilai bersama, bukan sekadar hasil individual.

Selain convocation, pengalaman lain yang memberikan kesan kuat adalah pola komunikasi kampus yang terbuka terhadap seluruh mahasiswa. Setiap kegiatan, baik berupa seminar akademik, diskusi publik, maupun acara yang diinisiasi oleh mahasiswa seperti Intercultural Fest, disampaikan secara resmi melalui email universitas. Mekanisme ini memungkinkan seluruh mahasiswa untuk memperoleh informasi yang sama tanpa harus berada dalam lingkaran tertentu.

Keteraturan dan keterbukaan informasi tersebut secara tidak langsung membentuk budaya partisipasi di lingkungan kampus. Mahasiswa diberi ruang untuk memilih, terlibat, dan belajar dari berbagai kegiatan lintas disiplin. Prinsip kebebasan berpartisipasi ini membuat kampus terasa sebagai ruang bersama yang dinamis, bukan sekadar tempat mengikuti perkuliahan.

Melalui pengalaman singkat namun padat ini, saya memahami bahwa kekuatan sebuah perguruan tinggi terletak pada kemampuannya menciptakan iklim belajar yang mendorong keterlibatan, keterbukaan, dan rasa memiliki. USM menunjukkan bahwa ketika kampus dikelola sebagai ruang interaksi yang hidup, proses belajar akan berlangsung secara alami, baik di dalam maupun di luar kelas. Kesempatan yang saya peroleh melalui program internasional Universitas Syiah Kuala saya maknai sebagai ruang untuk kembali dengan membawa cara pandang yang lebih luas terhadap proses belajar dan kehidupan akademik. Pengalaman mengikuti kegiatan di Universiti Sains Malaysia memberikan pemahaman mengenai bagaimana sebuah lingkungan akademik dibangun, dikelola, dan dijalani secara berkelanjutan, sehingga pembelajaran yang saya peroleh tidak berhenti sebagai pengalaman personal, tetapi berpotensi memberi dampak positif dalam melanjutkan studi serta berkontribusi di lingkungan Universitas Syiah Kuala.