Skip to content

Pengalaman Salah satu mahasiswa dari Program Studi sarjana akuntansi Universitas Syiah Kuala (USK) yang  bernama Andika Putra Pratama baru saja menyelesaikan student exchange di Universiti Sains Malaysia (USM), melalui Program Kegiatan Akademik Mahasiswa Internasional (KAMI) USK

Cover ya

Banda aceh, 16 desember 2025 – ”Terlibat ditengah tengah keberagaman” merupakan kata kata yang sesuai untuk mendeskripsikan tulisan ini, saya merupakan salah satu mahasiswa dari Program Studi sarjana akuntansi Universitas Syiah Kuala (USK) yang  baru saja menyelesaikan student exchange di Universiti Sains Malaysia (USM), melalui Program Kegiatan Akademik Mahasiswa Internasional (KAMI) USK. Pengalaman ini adalah sebuah transformasi multikultural yang memperkaya perspektif akademis dan sosial. Universiti Sains Malaysia, yang terletak di jantung multikultural Penang, benar-benar menjadi wadah bagi interaksi budaya yang intens dan bermakna. Saya menyoroti bahwa berinteraksi dengan rekan-rekan dari berbagai etnis Melayu, Tionghoa, dan India di Malaysia, serta mahasiswa internasional dari Singapura, Thailand, Jepang, hingga negara-negara Eropa dan Timur Tengah, merupakan pelajaran yang tak ternilai harganya.

Fokus utama dari pengalaman ini adalah penghayatan langsung terhadap kekuatan keberagaman dalam lingkungan akademik. Dengan  menceritakan bagaimana dinamika kelas di USM sangat hidup, didorong oleh perbedaan cara pandang yang dibawa oleh setiap mahasiswa. “Dalam satu proyek studi kasus, misalnya, rekan dari Eropa menawarkan solusi berbasis teknologi yang berbeda dengan pendekatan berbasis sosial yang diusulkan oleh teman dari Asia Tenggara. Diskusi-diskusi ini memaksa saya untuk berpikir kritis di luar batas-batas kebiasaan,” jelas Keberagaman ini juga terasa di kehidupan sehari-hari, mulai dari perayaan festival keagamaan yang berbeda di kampus, hingga mencoba kuliner otentik dari tiga budaya utama Malaysia. Hal ini memperkuat pemahaman tentang pentingnya toleransi dan inklusivitas sebagai bekal penting untuk menjadi warga dunia.

Lebih lanjut, saya  juga berhasil berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler yang mendorong integrasi budaya. Salah satunya adalah Convocation . Kegiatan ini bukan hanya ajang pamer flexing kelulusan, melainkan platform yang efektif untuk menghapus stereotip dan membangun jembatan persahabatan. Pengalaman ini mengajarkan bahwa meskipun berbeda bahasa dan latar belakang, tujuan akademik dan kemanusiaan akan tetap dapat menyatukan perbedaan. Saya berharap, kisah ini dapat menginspirasi mahasiswa lainnya untuk tidak membatasi diri pada zona nyaman, melainkan aktif mencari pengalaman yang menantang dan memperluas wawasan internasional. Keberhasilan di kancah internasional ini disambut baik oleh pihak Program Studi sarjana akuntansi Universitas Syiah Kuala, yang menekankan pentingnya pengalaman international bagi para lulusan. Pengalaman di Universiti Sains Malaysia ini diharapkan menjadi model bagi mahasiswa lain bahwa keberagaman bukan sekadar konsep, tetapi modal penting yang harus dikelola dan dirayakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kaya dan progresif. Dari program ini saya tidak hanya membawa pulang nilai akademik yang tinggi, tetapi juga jaringan pertemanan internasional dan kemampuan adaptasi yang matang.